Jumat, 23 Oktober 2015

choice

Choice
Choice adalah salah satu kosakata dari bahasa Inggris yang berarti pilihan. Pilihan adalah dimana kita harus memilih satu diantara lainnya, agar membuat kita jauh lebih baik. Dan mungkin aku telah memilih jalan ku, dan mengorbankan diantara pekerjaanku.
Tepatnya, tanggal 21 kemarin. Banun telah bersepakat untuk berhenti ngajar di dadaerah Waru, Kota Sidoarjo. Dengan anak didik yang biasa disapa Kiki. Kurang llebih hampir 6 bulan, aku mengajarnya dimulai dari dahulu aku bertinggal di Asrama Mhasiswi UIN Sunan Amepl, hingga bulan Juni aku pindah ke Kos sederhana, dengan sekamar bersama teman-teman sekelasku yang biasa disapa Yanti dan Fatim.
Ketika di Asrama, banun sudah berusaha start mengayuh Poba (Nama Sepeda Polygon Cream ku) dari Jam 5 sore atau lebih dari Jam 5. Dengan memakai masker berasal dari kerudung paris yang biasa aku gunakan dengan kisaran harga Rp. 15000 dan sebotol air berada di dalam tas bersama dengan catatan kecil dan pena. Aku terus mengayuh tiada henti, hingga adzan berkumandang ketika setengah perjalanan. Terkadang aku semakin cepat mengayuh, karena mengetahui adzan akan tiba. Dan berusaha tidak melewatkan jamaah, didekat rumah yang aku ajarin Les Privat. Kurang lebih dalam sehari Pulang Pergi sejauh 7 KM, aku mengayuh. Saat pulang itulah saat yang kunanti, tapi aku tetap berusaha mengajar dengan totalitas, meskipun nafas terkadang masih terasa cepat, karena terkadang juga aku mengayuhnya sangat cepat.
Sesampainya disana kurang lebih pukul 06.30, kuberusaha meninggalkan sifat kekanak-kanakanku. Dan berusaha menjadi kakak yang baik baginya :), karena ia tak mempunyai Kakak Perempuan. Hingga suatu hari ia pernah menyebutku, Guru Sejati. Seketika mata ku pada saat itu berkaca-kaca dan seperti akan pecah seketika layaknya kaca sungguhan. Terkadang aku memikirkan bagaimana seandainya aku akan pergi suatu saat nanti. Aku percaya, jika ada Pertemuan pasti ada yang namanya Perpisahan. Ia pun pernah memeluk, mencium, dan memberikan kasih sayangnya padaku, dan berkata. Jangan pernah pergi yak mba. Tetap jadi Guru Terbaik ku, Kakak Terbaikku. Aku tak mampu menampung air yang telah membendung di kelopak mataku, hingga mengusapnya. Beginikah rasanya dianggap berarti bagi orang lain dan takut kehilangan. Aku hanya mampu tersenyum. Tapi itu semuanya adalah kenangan yang telah lalu. Dan aku berusaha menerima keputusanku beberapa hari yang lalu. Untuk tidak mengajar lagi, dikarenakan juga sama-sama lelah. Lelah tenaga untuk mengayuh, meskipun terkadang aku meminjam dan dipinjami oleh teman-temanku untuk mengendarai motor mereka, hingga selalu membuatku sungkan. Tapi, mau bagaimana lagi.
Karena aku sekarang telah memberi keputusanku, agar kedepannya jauh lebih baik.
Aku hanya berharap, Kiki tetap seperti yang aku kenal. Ceria, Pemarah, Usil, Jahil. Dan semoga inilah keputusan terbaikku. Kelanjutannya, mungkin aku akan mengajar dekat kos-kos saja lah, sembari kerja di Royal Plaza tiap Jumat hingga Minggu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar