Rabu, 26 Agustus 2015

Arti Sebuah Nama dan Revolusinya

Nama setelah aku diadzani adalah Syahri Banun. Akan tetapi, ketika duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, namaku berubah menjadi Syari Banun. Hingga aku duduk dibantu Aliyah orang-orang mengetahuinya seperti itu. Namun, berubah lagi ketika diriku duduk dibangku Kuliah seperti sekarang. Namaku kembali seperti nama aku setelah diadzani mengikuti KTP (Kartu Tanda Penduduk) ku saat ini. Aku pun mulai kebingungan untuk mengurusnya, hingga akhirnya di semester 3 sekarang aku memutuskan menggunakan nama Syari Banun agar identitasku tidak membingungkan. Toh akan teta[i diakad nikah nanti yah tetap namaku adalah Syahri Banun.
Membingunkan sekali yah namaku.
Aku mrmpunyai nama berbeda tiap suasana dan tempat, dirumah aku disapa dengan 'Cantik', mungkin karena diriku adalah anak tuggal wanita dikeluargaku. Walaupun aku tau, diriku tidak cantik sebelum hatiku cantik. Ketika di bangku MI, guru ku yang berasal dari suku bugis memanggil namaku dengan 'Banon' mungkin karena emang logatnya, jadi terkadang tiap suku Bugis memanggil diriku seperti. lain lagi dengan teman-temanku ketika Ibtadaiyah dan tetangga sekitar yang seusiaku biasanya mengejekku dengan candaan 'Libanon', mungkin karena namaku identik dengan negara tersebut. Salah satu Guruku di Ibtadaiyah pernah mengatakan ku 'master Matematika', mungkin karena aku paling suka Matematika dikelas sih, dan terkadang nilaiku jauh lebih tinggi dari teman-teman, padahal pelajar yang lainnya tidak begitu sih. Teman dekatku dan seperjuangan untuk berantem dari Ibtadaiyah yang bernama Taufik Rahman, biasanya memanggilku dengan nama 'mbah Kucing', itu karena saat di Sekolah, satu sekolahan tau kalau aku pecinta kucing. Sekali saja berani menanggu Kucing akan kuhabisin dengan cakaran mautku dan berbagai omelan. Yah maklum lah, agak sedikit terlihat lelaki. Yah anak-anak juga biasa bilang 'Tomboy' , padahal gak juga. Buktinya aku punya sisi kewanitaan yang tidak tega dengan binatang. :D
Lanjut ke Tsanawiyah, ketika aku memasuki salah satu Ekstrakulikul di sekolahku. Ada anak yang baisanya memanggil ku 'Ari", itu karena aku sudah kayak anak cowok. Dia memanggil seperti itu karena memotong sebagian dari kata Sy-Ari. Hingga suatu saat dia menyapaku dengan sebutan 'Banun', kedengarannya tidak nyaman. Diapun juga memiliki perasaan yang sama, mungkin karena tiap hari dia memanggilku Ari baik di atas matras maupun di dalam kelas. 'Libanon', 'Banun', 'Mbah Kucing' itu juga tetap tidak ketinggalan dimasa Tsanawiyah. Lebih tragsinya lagi, aku pernah berkelahi dengan kakak kelas cuma karena amsalah dia menyakiti Kucing. Yah beginilah aku, tak peduli dewasa atau muda. Selama aku anggap, aku benar yah aku maju. Tapi, dari situ alhamdulillah aku terkadang disegani. Jadi tidak ada cowok yang berani menggangguku. Dan akhirnya aku tidak hanya memiliki teman wanita saja tetapi pria pun juga. Hingga akhirnya kakaknya mengakui kesalahnnya dan meminta maaf dan kami pun baikan seperti biasanya.
Ketika Tsanawiyah pun ada temanku dari Ibtidaiyah memanggil diriku dengan sapaan 'Akyong'. Itu kerena diriku pecinta Kucing yang bunyinya meong-meong. Sebenarnya dia juga sangat menyayangi Kucing. Tapi masa, namanya sama, biar beda aku sapa deia dengan 'Akmar', karena dia juga marmut, kurang lebih sebangsa Kelinci dan Hamster. Ada juga sih yang memanggilku dengan 'Riang' artinya 'Ari sayang', biasa lagi jaman-jamannya puber jadi agak alay lah. Namanya juga masa pertumbuhan.
Menjelang Aliyah, kurang lebih sama aja sih namaku. Cuman aku sering memakai bros yang tulisannya 'BaRa' jadi seluruh sekolah itu memanggilku 'bara' , apalagi pas lagi tenernya lagu dari luar negeri 'Bara-bara bere-bere', ntahlah apa kelanjutannya akupun kurang mengetahuinya. Jadi terkadang, yang melihat brossku, langsung spontan nyanyi.
Terkadang juga ada yang memanggil dengan nama bapakku 'Gupron', dalam hati kecilku berdoa, "ya Allah, orang itu baik sekali menyebutkan nama bapakku, mungkin biar aku selalu ingat sama bapakku tiap saat. Terimaksih, teman".
Alhamdulillah dari sekian banyaknya nama sapaan, hingga candan itu tidak membuatku malu. Aku bangga pada orang tuaku yang telah memberikan namaku tersebut. Meskipun orang selalu mengira aku anak laki-laki dari sudut pandang. Aku bahagia kok , bisa buat disekitarku bahagia. Tak perduli, orang berkata apa tentang pendapatku ini, toh lebih baik kita positive tihingking terhadap segala sesuatu yang terjadi. Daripada negative thingking buat kita pusing dan gak kelar-kelar cuma karena nama kita diejek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar