Samarinda, 23 Agustus 2015
Alarm berbunyi tepat pada pukul 4 dini hari waktu timur, pertanda harus segera bangun dan bersiap-siap untuk melakukan rutinitas seperti biasanya. Akan tetapi hari ini, merupakan hari terakhir diriku melakukan rutinitas dirumah. Karena hari ini banun akan pergi ke Surabaya.
Hari ini bergitu berbeda, ibu yang biasanya periang dengan semangatnya membuat sarapan. Malah beruraian air mata.
Jam menunjukkan pukul 5.15 waktunya Bapak mengantarkan banun ke Jl. Sentosa tepat dirumah teman banun, ia bernama Nurul Fitri. Banun biasanya memanggilnya Nefka. Nefka adalah anak kedua dari dua bersaudara. Aku dan dirinya akan pergi bersama-sama kebandara.
Sebelum pergi, ibuku berpesan," Jangan lupa sholat dan ngajinya. Jangan macam-macam disana. Jaga diri baik-baik," dengan wajah yang penuh deraian airmata. Aku hanya mampu tersenyum dan mencium tangannya. Aku hanya berusaha menahan tangisan didepan ibu. Aku tak mau ibu terlihat tambah menangis karena melihatku menangis.
Tak hanya ibuku yang mengantarku di daun pintu, tapi juga Saudara laki-lakiku yang lebih tua diatasku dan juga kedua Kucingku. Mas ku, yang biasanya bertengkar bersamaku, hanya mampu terdiam dan membisu. Kucingku yang selalu biasanya mengantarkan kepergianku sampai jalan depan rumah, kini ikut mengantarkan. Aku tau mereka juga mengerti atas kepergianku, dan akupun berkata," Miong, tunggu aku pulang yah. Tetap sehat yah."
Motor bapak telah usai dipanaskan dan itu berarti pertanda aku harus segera berangkat. Seketika aku menaiki motor dan ibuku tiba-tiba langsung masuk dan tidak keluar rumah. Ibuku hanya melihat kepergianku disela-sela jendela rumah yang telah rapuh kayunya.
Sembari menengok dan hatikecilu berkata, "maafkan anakmu, bu. Aku
berjanji, Bu. Aku akan gantikan air mata perpisahan itu dengan air mata
kebahagiaan suatu hari kelak keitika anakmu datang membawa kesuksesan."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar