Selasa, 01 September 2015

Kerja apa Kuliah ????

Surabaya, 31 Agustus 2015

Ntah tulisan yang keberapa aku tulis kali ini , tapi aku rasa gak sampe ke-5 sih..
Gak, terasa, sudah 1 bulan lebih aku berada di Surabaya. Rasanya masih sama seperti 1 tahun yang lalu. Surabaya yang gersang, panas dan banyak polusi dimana-mana. Tapi, aku tetap bersyukur karena mampu bertahan di luar daerah tanpa orang tua didekatku dan berusaha mengurus satu orang adekku yang mondok di sidoardjo.
Hari ini merupakan hari terakhir aku kerja, karena esok adalah hari dimana aku mulai beraktifitas kembali di bangku kuliah. Sempat terbesit difikaranku, mungkin aku lebih baik kerja aja yah ketimbang kuliah hanya menghabiskan duit orang tua. Tapi, pemikiran itu segera aku buang jauh-jauh dari benak kepala ku.
"gak boleh banun. kamu gak boleh berhenti ! kamu harus tetap berjuang, emski orang memandangmu rendah ". Gumamku, maklumlah aku bukan dari kalangan orang yang terlalu lebih. Tapi, aku yakin . AKU MAMPU SUKSES dan mampu mangangkat derajat kedua orangtuaku, yang sedang berjuang demi aku.
 Aku bekerja di salah satu mall dari sekian banyaknya Mall di Surabaya. Surabaya sangat terkenal dengan banyak Mall, buktinya di sepanjang Jl. Ahmad Yani ada 2 mall, yaitu Cito (City of Tomorrow) dan Royal Plaza, kini akan dibangkun lagi Mall tepat disebelah kampusku. Oh tidak, bakal jadi apa ntar Mahasiswa UIN Sunan Ampel, yang biasanya ke Perpustakaan. Apakah akan beralih pindah ke Mall tepat disebelah kampus?? ntahlah kita lihat kedepannya nanti.
Aku bekerja di Toko An Collection yang managernya bernama Bu Fatimah. Ibu dengan 1 orang anak. Ternyata beliau merupakan alumni IAIN Sunan Ampel, dan kebetulan juga dari Fakiltas dan Jurusan yang sama seperti diriku. Emang jodoh kali ya kerja disitu. Hhahaha.
Karena bekerja disitu, aku pula mendapatkan teman yang banyak dari berbagai daerah, tidak hanya Surabaya. Antara lain Sidoarjo, Bojonegoro, Lamongan, Jember, Bandung, Sumatera hingga Bali dan Kalimantan sepertiku juga ada. Meski kami dari berbagai daerah yang berbeda itu tak membuat kami menajdi memenangkan daerah satu sama lain, malah kami saling belajar bahasa daerah masing-masing. Seperti diriku sekarang yang tak hanya belajar bahasa Jawa tetapi bahasa Sunda.
Terimakasih kawan-kawan berkat kalian aku mampu jalani hari-hari yang tak begitu membosankan di toko.
Di penghujung kerjaku hari ini, Manager ku berkata," Kalau pas liburan kerja lagi disini gak papa kok." wah, betapa bahagianya bisa seperti itu.Tak lupa, bosku memebri sebuah Jam Tangan berwarna transparan, dimana teman-temanku sangat menyukainya. Malah sampe ada yang ingin emmbelinya dengan bajet tigngi. Maaf yah kawan-kawan, tidak bisa. Ini merupakan pemberian orang yang harus aku jaga baik-baik.
Tunggu kehadiranku bekerja di Royal Plaza lagi yah kawan-kawan.
I will Always Miss you all

Rabu, 26 Agustus 2015

Arti Sebuah Nama dan Revolusinya

Nama setelah aku diadzani adalah Syahri Banun. Akan tetapi, ketika duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, namaku berubah menjadi Syari Banun. Hingga aku duduk dibantu Aliyah orang-orang mengetahuinya seperti itu. Namun, berubah lagi ketika diriku duduk dibangku Kuliah seperti sekarang. Namaku kembali seperti nama aku setelah diadzani mengikuti KTP (Kartu Tanda Penduduk) ku saat ini. Aku pun mulai kebingungan untuk mengurusnya, hingga akhirnya di semester 3 sekarang aku memutuskan menggunakan nama Syari Banun agar identitasku tidak membingungkan. Toh akan teta[i diakad nikah nanti yah tetap namaku adalah Syahri Banun.
Membingunkan sekali yah namaku.
Aku mrmpunyai nama berbeda tiap suasana dan tempat, dirumah aku disapa dengan 'Cantik', mungkin karena diriku adalah anak tuggal wanita dikeluargaku. Walaupun aku tau, diriku tidak cantik sebelum hatiku cantik. Ketika di bangku MI, guru ku yang berasal dari suku bugis memanggil namaku dengan 'Banon' mungkin karena emang logatnya, jadi terkadang tiap suku Bugis memanggil diriku seperti. lain lagi dengan teman-temanku ketika Ibtadaiyah dan tetangga sekitar yang seusiaku biasanya mengejekku dengan candaan 'Libanon', mungkin karena namaku identik dengan negara tersebut. Salah satu Guruku di Ibtadaiyah pernah mengatakan ku 'master Matematika', mungkin karena aku paling suka Matematika dikelas sih, dan terkadang nilaiku jauh lebih tinggi dari teman-teman, padahal pelajar yang lainnya tidak begitu sih. Teman dekatku dan seperjuangan untuk berantem dari Ibtadaiyah yang bernama Taufik Rahman, biasanya memanggilku dengan nama 'mbah Kucing', itu karena saat di Sekolah, satu sekolahan tau kalau aku pecinta kucing. Sekali saja berani menanggu Kucing akan kuhabisin dengan cakaran mautku dan berbagai omelan. Yah maklum lah, agak sedikit terlihat lelaki. Yah anak-anak juga biasa bilang 'Tomboy' , padahal gak juga. Buktinya aku punya sisi kewanitaan yang tidak tega dengan binatang. :D
Lanjut ke Tsanawiyah, ketika aku memasuki salah satu Ekstrakulikul di sekolahku. Ada anak yang baisanya memanggil ku 'Ari", itu karena aku sudah kayak anak cowok. Dia memanggil seperti itu karena memotong sebagian dari kata Sy-Ari. Hingga suatu saat dia menyapaku dengan sebutan 'Banun', kedengarannya tidak nyaman. Diapun juga memiliki perasaan yang sama, mungkin karena tiap hari dia memanggilku Ari baik di atas matras maupun di dalam kelas. 'Libanon', 'Banun', 'Mbah Kucing' itu juga tetap tidak ketinggalan dimasa Tsanawiyah. Lebih tragsinya lagi, aku pernah berkelahi dengan kakak kelas cuma karena amsalah dia menyakiti Kucing. Yah beginilah aku, tak peduli dewasa atau muda. Selama aku anggap, aku benar yah aku maju. Tapi, dari situ alhamdulillah aku terkadang disegani. Jadi tidak ada cowok yang berani menggangguku. Dan akhirnya aku tidak hanya memiliki teman wanita saja tetapi pria pun juga. Hingga akhirnya kakaknya mengakui kesalahnnya dan meminta maaf dan kami pun baikan seperti biasanya.
Ketika Tsanawiyah pun ada temanku dari Ibtidaiyah memanggil diriku dengan sapaan 'Akyong'. Itu kerena diriku pecinta Kucing yang bunyinya meong-meong. Sebenarnya dia juga sangat menyayangi Kucing. Tapi masa, namanya sama, biar beda aku sapa deia dengan 'Akmar', karena dia juga marmut, kurang lebih sebangsa Kelinci dan Hamster. Ada juga sih yang memanggilku dengan 'Riang' artinya 'Ari sayang', biasa lagi jaman-jamannya puber jadi agak alay lah. Namanya juga masa pertumbuhan.
Menjelang Aliyah, kurang lebih sama aja sih namaku. Cuman aku sering memakai bros yang tulisannya 'BaRa' jadi seluruh sekolah itu memanggilku 'bara' , apalagi pas lagi tenernya lagu dari luar negeri 'Bara-bara bere-bere', ntahlah apa kelanjutannya akupun kurang mengetahuinya. Jadi terkadang, yang melihat brossku, langsung spontan nyanyi.
Terkadang juga ada yang memanggil dengan nama bapakku 'Gupron', dalam hati kecilku berdoa, "ya Allah, orang itu baik sekali menyebutkan nama bapakku, mungkin biar aku selalu ingat sama bapakku tiap saat. Terimaksih, teman".
Alhamdulillah dari sekian banyaknya nama sapaan, hingga candan itu tidak membuatku malu. Aku bangga pada orang tuaku yang telah memberikan namaku tersebut. Meskipun orang selalu mengira aku anak laki-laki dari sudut pandang. Aku bahagia kok , bisa buat disekitarku bahagia. Tak perduli, orang berkata apa tentang pendapatku ini, toh lebih baik kita positive tihingking terhadap segala sesuatu yang terjadi. Daripada negative thingking buat kita pusing dan gak kelar-kelar cuma karena nama kita diejek.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Lion Air

Sesampainya di rumah Nurul. Rasa nyesek mulai timbul, namun aku harus kuat. "Jangan nangis nun,  kamu kuat. Kamu bisa jalani seprti ceriamu biasanys ", gumam dalam hati.
"Ayo nun masuk dulu, sarapan " suara yang berasal dari dalam rumah dengan nada tinggi.
"Iya bu", membalas sembari masuk kedalan rumah.
Betapa terkejutnya, tiba-tiba disuapin oleh ibunya Nurul. Bapakku pun nelihat dari luar karena pintunya tak ditutup dan kebetulan bapak menemani bapaknya Nurul dan tukang carter mobil.
Waktu mennjkn pukul 6 lebih sedikit. Koper dan tas telah dimasukkan dalam bagasi. Dan siap cussss. Disitulah saat mengharukan ku bersama bapak.
Bapak memelukku erat dan nenciyn pipi dan keningku dan berkaya, "Semangat yah cantik. Sholatnya dijaga. Yang rajin disana. Puasanya juga yak nak. Jangan sakit-sakitan yah ".
"Iya pak", dengan air mata yang terbendung mengitari kelopak mata dan berusaha menahannya jangan sampai tumpah.
Ibunya Nurul pun menangis bersama Nurul.
"Ayo, semuanya sudah siap" Tukang carternya mengajak segera pergi.
Kami bergegas masuk mobil dan selamat tinggal semuanya.
Aku melihat bapakku pamit dan mengikuti mobil yang aku naiki dan akhirnya aku menangis di dalam Mobil.
Nurul pun menenangkanku. Hingga aku tau motor bapakku telah ketinggalan jauh. Karena mobilnya melaju dengan pesat disaat embun masih menempel didedaunan yang sejuk.

Handphone ku berdering.
" 3 New Massage ". Tulisan di Hapeku ketika ada pesan masuk.
Yang pertama ku buka dari Dj. Ade kelasku yang kutau sangat menyayangiku. Sampai-sampai memberikan jaket kesayangannya padaku. Memberikan ku Hem.
" Kak Dj mau antar kakak  Dj mau bolos sekolah. Mau antar kskak ke Bandara. " Pesan singkat yang ia tuliskan.
" Gsk usah dink ai. Ya allah anak ini. Jangan dek!! Nda usahh :( buat kakak majin sedih aja. Dj belajar yang rajin yah, nanti nyusul kakak ", balas ku dengan sedkit kaget, ketawa, bahagia. Betapa aku berartinya bagi dia

" Hati-hati di jalan dek. Selamat sampai tujuan, beberapa hari yang lalu saya ada lihat kamu dek," pesan singkat yang aku dapat dari seseorang yang aku kagumi sejak dulu . Namun aku menyembunyikan dari siapapun.
" Oh iya kak. Dimana ? Kok nda negur, ?," balasku dengan begitu riang.
"Ada dek didepan stain. Kamu pake scoopy. Saya sanpe mau nabrak orang karena lihat jamu," balasnya dengan cepat.
"Hihi .kakak bisa aja, kayak lihat apa aja lagi," balasku dengan nelihat hape dambil tertawa kecil (semoga kakaknya nda lihat tulisanku ini hahaha.cukup sms ini yang tak publikasikan wkwkw)

"Hati-hati yah nun. Sukses yah kedepannya. Jangan lupain aku yah," pesan dari Rudianto. Teman yang baru kukebal tapi bersamanya aku berasa nyaman (Longlast yah sama ceweknya sejarang)
Terakhir melihat sms. Akhitnya aju terlelap hingga sanpai di Bandara

Ambil gadget  dan tak ketinggalan tongsis untuk aku dan Nurul selfie di Bandara.
Setelah itu kami check in dan pergi keruang tunggu .
Kemudian aku menelpon bapak untuk mengabarkan telah sampai di Bandara Balikpapan. Aku tau ibuku menangis ketika menelpon bapakku
" Pesawat dengan nomor peberbanhan JT 303 Lion Air akan segera berangkat . Penunpang diharap menamasuki pintu 3," suara pramugari di sounspeaket bandara Juanda Balikpapan.
"Tunggu anak mu,Pak,Bu. Banun akan mengangkat derajat keluarga kita dan membanggakan bapak, Ibu. Akan kutunjukan pada merek yang pernah mencelaku, aku mampu bangkit dab berkarya. Banun akan gantikan air mata itu dengan kebahagiaan kelak". Gumamku sambil nelihat awan putih nan bersih

Rabu, 19 Agustus 2015

Janji Seorang Anak

Samarinda, 23 Agustus 2015
Alarm berbunyi tepat pada pukul 4 dini hari waktu timur, pertanda harus segera bangun dan bersiap-siap untuk melakukan rutinitas seperti biasanya. Akan tetapi hari ini, merupakan hari terakhir diriku melakukan rutinitas dirumah. Karena hari ini banun akan pergi ke Surabaya.
Hari ini bergitu berbeda, ibu yang biasanya periang dengan semangatnya membuat sarapan. Malah beruraian air mata.
Jam menunjukkan pukul 5.15 waktunya Bapak mengantarkan banun ke Jl. Sentosa tepat dirumah teman banun, ia bernama Nurul Fitri. Banun biasanya memanggilnya Nefka. Nefka adalah anak kedua dari dua bersaudara. Aku dan dirinya akan pergi bersama-sama kebandara.
Sebelum pergi, ibuku berpesan," Jangan lupa sholat dan ngajinya. Jangan macam-macam disana. Jaga diri baik-baik," dengan wajah yang penuh deraian airmata. Aku hanya mampu tersenyum dan mencium tangannya. Aku hanya berusaha menahan tangisan didepan ibu. Aku tak mau ibu terlihat tambah menangis karena melihatku menangis.
Tak hanya ibuku yang mengantarku di daun pintu, tapi juga Saudara laki-lakiku yang lebih tua diatasku dan juga kedua Kucingku. Mas ku, yang biasanya bertengkar bersamaku, hanya mampu terdiam dan membisu. Kucingku yang selalu biasanya mengantarkan kepergianku sampai jalan depan rumah, kini ikut mengantarkan. Aku tau mereka juga mengerti atas kepergianku, dan akupun berkata," Miong, tunggu aku pulang yah. Tetap sehat yah."
Motor bapak telah usai dipanaskan dan itu berarti pertanda aku harus segera berangkat. Seketika aku menaiki motor dan ibuku tiba-tiba langsung masuk dan tidak keluar rumah. Ibuku hanya melihat kepergianku disela-sela jendela rumah yang telah rapuh kayunya.
Sembari menengok dan hatikecilu berkata, "maafkan anakmu, bu. Aku berjanji, Bu. Aku akan gantikan air mata perpisahan itu dengan air mata kebahagiaan suatu hari kelak keitika anakmu datang membawa kesuksesan."